Kopi Hitam dan Perempuan Hebat

Senja kala itu, jemariKu mencubit pipimu kasar. Kau menggerutu muram. Namun, saat aku mengenangmu kini, justru aku merasa senang. Kita duduk di beranda Kos Kosan. Embun melambai-lambai tenang. Kendaraan lengang. Senja mekar di ufuk Barat. Kabut mengendap-endap sedikit.


Hendak menghalangi seluruh wajah langit, namun ia tak mampu menjangkau keseluruhannya. Jadi, tetaplah keindahan yang akan memanjakan sudut-sudut matamu. Gerimis menemani Kita Kala itu...menghadiahkan kedinginan hinggah tubuh kita pun sama-sama mengigil .Perlahan-perlahan kau rebahkan kepalamu dibahuku sembari dengan lembut ku daraskan kecupan hangat dikeningmu kala itu hinggah langitpun marah ditandai bunyi Guntur dan kiblatan Kilat yg mengetarkan jagad. Semakin kau eratkan lagi dekapMu.





By Kristoforus Arakian
Jujur Aku tengah merindu. Rindu saat itu. Namun sayang hari ini berbeda ketika Tuhan Gagal meminang Akal untuk Hati tanpa Mahar Airmata. Aku gagal lagi menjadikan Mu rumah dr segala pulangku. Aku lalai menjagamu.


Kadang Lalai dalam kebersamaan membuat kita Gemetar ketika dihantui Sepih... Namun Semoga saja Tuhan masih mengenggam erat Jemari untuk bisa bangkit lagi dan semoga perihal dihantui sepih ini tdk mengurui Nalar untuk mengkhiati hati.

 Kristoforus Arakian

0 komentar:

Posting Komentar